Agustus 2009 lalu saya dapet kesempatan untuk bertemu dengan seorang profesor asal Korea Selatan bermata minimalis (baca:sipit)dalam rangka sebuah acara pendidikan. Kami seminar, talkshow, menghadiri cultural night dan juga jalan-jalan doong pastinya. ;p Nah ceritanya hari itu almost end day dan kami dapat free day walk; kami jalan2 dengan guide dan diberi keleluasaan untuk bebas berapresiasi memilih cinderamata (baca:belanja). hmm, saya sih no money..gimana ateuh.? dengan tekad kuat membeli seperlunya aja saya melaju terus memasang
kacamatakudangga liat kanan-kiri (takut ngiler.RED) dan menggapai tiang pancang harapan(translate:lebay mode wordsfor resto,warung dan sejenisnya pelepas dahaga dan lapar)karena emang ngga kerasa boy udah LUNCH aja! kami menyusuri sepanjang pertokoan mencari makanan yang cocok dan berkategori HALAL 100%. susahnya minta ampun ternyata. ngider-ngider dan terus aja keluar-masuk resto dilengkapi perasaan waswas dan underestimate setiap resto. =(( nah, sebenernya temen2 lain yang beda agama sih toleransi dan hayu-hayu aja ngikut terus nyari (dengan alasan mencari yang terbaik dan termurah.RED) tapi, ngga enak banget nih sama sang profesor ini. AIH, ternyata dia dengan baiknya toleransi karena pengen bareng terus dalam grup.
Saya akhirnya pesen mie laksa yang ciamik bangetlah rasanya berkategori uhuyy* sepanjang melahap si mie ada perasaan ngga enak yang ngikut serta yang kalo diibaratin kaya ada debu di idung yang bikin gatel harus dikorek. bener kaan ternyata si prof ngeliatin saya (NB: bukan kagum tapi ekspresi muka aneh)setelah si mie ditelan mutlak dan habis(bersama mangkoknya)saya dapet kesempatan ngobrol really close and intense sama si prof. dia akhirnya memulai dengan nanya: "what are you wearing over your head.? and why it must be wear?" (dengan ekspresi bingung dan tatapan aneh, bayangkan..gugup rasanya dipandang kaya gitu kaan.?) dia bertanya sambil memperagakan menunjuk jilbab di kepala saya. ohh i see, pantesaan dari tadi ngeliatin, dia aneh ternyata kenapa aku dengan anehnya menutup kepala pake kain padahal outside are really hot, yeap sure.hadeuh, apapula dia begitu.??
haha, beneran saya kaget. udah mikir2 yang ngga enak tadinya dan sekarang harus mulai mingkem siapin jawaban logical dan ngga bertendensi negatif ataupun SARA.sebelum saya menjawab dia udah nanya lagi: "if you doing sport you always stay to wear that? wah i can't even imagine." saya senyum terkesiap tapi siap menjawab.
Akhirnya saya mulai menceritakan kisah perintah jilbab jamannya Nabi Muhammad (untung dia tahu beliau), kemudian saya jelaskan bahwa ini pilihan saya yang akan saya pegang seumur hidup, saya pun bilang ibu saya pun pakai karena dia tanya begitu, and the bla-bla-blas.(masih banyak.RED)intinya dia bertanya seperti anak kecil yang sedang mengintrogasi ibunya kenapa kok bisa ada dede bayi dari perut ibu. Bedanya dia prof yang bertanya secara logical dan cenderung intervensi. Akhirnya dia nanya sesuatu atau bisa dibilang konsultasi tentang masalah jilbab ini karena di Korea Selatan sana masih jarang sekali ditemukan dan dia bingung kalo dia merawat pasiennya kelak yang pake jilbab mesti gimana. dia berkonsultasi sesuatu pada akhirnya..
"if i am on minor surgery, could i touch her or open the veil? and if it must be categorizing as major surgery, how is the veil? is it allow to be open?" waww, really shocking.!!
dengan menyebut bismillah akhirnya saya jawab dengan semestinya dan semampu saya.
Pertanyaan mendasar kaya gini justru ngga boleh asal dijawab, apalagi menyangkut agama. Hmm, bisa-bisa dia bawa persepktif salah sepulangnya ke Korea Selatan nanti.
hmm.what's a day!
nb: the man on pinky polo shirt is the prof.
