Pa Aji
“Yah mah, kok ada Pa Aji?” dengan ekspresi malas dan kecewa aku ungkapkan kepada mama setiap hari kamis dan senin. Yap , hari itu adalah hari aku dan adik mengaji. Walaupun aku juga bersekolah agama (Taman Pendidikan Al-quran Pupuk Kujang) setiap sore, mama tetap mewajibkan untuk mengaji dengan pa Aji.
Bapak Alm. Haji Muhibat namanya, sudah lanjut usia namun tidak renta. Alm. Pa Aji, sudah mengajar mengaji dan baca tulis Iqro sejak aku playgroup. Aku sudah tidak ingat berapa usianya ketika Alm. Pa Aji mulai mengajar, yang jelas mama bilang sudah memasuki dekade ketujuh. Alm. Pa Aji setia untuk datang 2 kali seminggu dengan ciri khasnya; tubuh tegap dan kokoh menjinjing payung melangkah mantap penuh karisma. Beliau kerumahku dengan berjalan kaki di sepanjang komplek sampai rumah padahal waktu itu rumahku jauh sekali dari gerbang utama.
Setiap pa Aji datang aku sering bersembunyi atau pura-pura sakit atau lari kabur keluar untk bermain bersama teman-teman. Akhirnya hanya mama yang mengaji atau pulang tanpa hasil (karena aku yang main dan mama sedang haid). Tetapi minggu depannya pa Aji tetap datang seperti biasa dengan senyum gurat semangat tanpa pernah kecewa. Dalam mengaji sering sekali pa Aji tertidur saat membaca ayat dan kesempatan itu aku gunakan untuk memanipulasi ayat walhasil saat pa Aji membuka mata aku sudah mengucap “shodaqallahulladzim” dan menutup Quran. Pa Aji percaya saja padaku dan akhirnya menyelesaikan tadarus dengan berdoa. Jika kuingat-ingat lagi sekarang hal itu (dan masih banyak hal lainnya) benar-benar menyesakkan rasanya mengurai penyesalan.
Beranjak dewasa aku pindah untuk bersekolah di SMA Bandung . Saatnya aku meninggalkan pa Aji yang sudah 1 dekade lebih mengajar. Jarang aku mengingat pa Aji apalagi dalam kondisiku yang dalam masa remaja pubertas sedang beger. Tapi pa Aji selalu mengirim salam kangen padaku melalui mama. Jika aku pulang atau berlibur ke Cikampek, mama selalu mempertemukan kembali dengan memanggil pa Aji kerumah. Pelan-pelan kuikuti doa2nya dan selalu mengaji sampai Ain. (Alhamdulillah. =p). Usai mengaji pa Aji selalu mengecup kepalaku dengan mengucap doa entah apa yang dia panjatkan kepada ya Rabb.
Suatu kali saat liburan berikutnya, Pa Aji meminta sepeda ungu milikku ~ yang teronggok manis di gudang rumah tak terpakai ~ dan aku meng-iya-kan keinginannya. Kemudian tahun berselang sampai aku tidak tahu kabar pa Aji dan belum juga mengamanahkan sepeda kepada mama atau papa untuk diberikan kepada pa Aji. Hingga suatu hari terdengar kabar pa Aji masuk rumah sakit (aku lupa penyakitnya). Aku kaget dan sedih sedalam-dalamnya serta merta menjenguk Pa Aji ke Cikampek. Dengan rambutnya yang memutih dan senyumnya yang merekah Pa Aji menyambutku ramah. Wah beliau masih ingat dengan tetap memanggilku teteh. Terharu rasanya. Pa Aji sudah kuanggap kakek kandungku sendiri.
Inalillahi Wa Inna Illaihi Rajiun, pada hari Jumat pa Aji berpulang ke Rakhmatullah. Hari yang indah bagi mereka yang merasakan dimana aku ikhlas melepas pa Aji dengan batin yang didera penyesalan akan sebuah alasan bahwa sampai akhir hayatnya pa Aji belum menerima sepeda ungu milikku. Maaf pa Aji, sungguh maaf. Semoga engkau tidak pernah marah padaku yang melupakan sebuah amanah.
Aku sangat sayang pa Aji dan akan selalu mendoakan.
Didedikasikan untuk Bapak Alm. Hj. Muhibat atas seluruh doa dan kasih sayangnya untukku sedari kecil.
. Ananda Alda .




